JAKARTA, incatravel.co.id – Desa Wisata Penglipuran selalu berhasil mencuri perhatian setiap pengunjung yang datang. Terletak di Kabupaten Bangli, Bali, desa ini menawarkan pemandangan yang menenangkan, dari jalanan yang bersih rapi hingga rumah-rumah tradisional Bali yang khas. Begitu sampai di gerbang desa, suasana seakan berubah total—hiruk-pikuk kota seolah menghilang diganti dengan ketenangan yang menyegarkan.
Pepohonan rindang dan udara segar membuat siapa pun betah berjalan kaki mengelilingi desa. Tidak jarang, pengunjung membawa piknik kecil, duduk di dekat kebun bambu sambil menikmati angin sepoi-sepoi. Konsep lingkungan yang terjaga ini bukan kebetulan. Warga desa dengan disiplin menerapkan aturan adat dan aturan kebersihan yang ketat, memastikan setiap sudut tetap nyaman dan bersih.
Menariknya, banyak wisatawan yang awalnya datang untuk sekadar foto-foto indah, kemudian justru terseret ke pengalaman yang lebih mendalam. Misalnya, mengikuti kegiatan sehari-hari warga seperti menanam sayuran organik atau belajar membuat anyaman bambu. Aktivitas sederhana ini membuat Desa Wisata Penglipuran terasa hidup, bukan sekadar tempat “pajangan” untuk foto Instagram.
Rumah Tradisional dan Arsitektur Bali yang Autentik

Setiap rumah di Penglipuran memiliki ciri khas Bali yang kental, dari atap ijuk hingga halaman yang rapi. Jalan-jalan utama desa ini dipenuhi rumah-rumah yang membentuk pola simetris, memberi kesan harmonis dan tertata. Bahkan pengunjung yang datang dengan mata awam sekalipun bisa langsung merasakan estetika tradisional Bali yang terjaga.
Rumah-rumah ini bukan hanya untuk dipandang. Banyak pemilik rumah yang bersedia berbagi cerita tentang sejarah keluarga mereka dan filosofi di balik desain rumah. Misalnya, penempatan pintu, bentuk atap, hingga arah halaman rumah semuanya memiliki makna tertentu. Filosofi ini terkait erat dengan kepercayaan Hindu Bali, yang menekankan keseimbangan antara manusia, alam, dan leluhur.
Salah satu hal yang paling menarik adalah bagaimana desa ini berhasil mempertahankan bentuk aslinya meski pariwisata mulai berkembang. Tidak ada bangunan modern yang mengganggu keindahan desa. Justru, pengunjung bisa belajar bagaimana masyarakat lokal menyeimbangkan tradisi dengan tuntutan ekonomi modern.
Tradisi dan Budaya yang Menghidupkan Desa
Selain keindahan fisik, Desa Wisata Penglipuran kaya dengan tradisi. Setiap bulan, warga mengadakan upacara adat yang melibatkan seluruh masyarakat. Wisatawan sering kali diberikan kesempatan untuk menyaksikan, bahkan ikut serta, tentunya dengan bimbingan warga setempat.
Salah satu tradisi unik adalah proses pembersihan desa yang dilakukan secara kolektif. Warga membersihkan jalan, halaman rumah, hingga pura. Aktivitas ini bukan sekadar kebersihan fisik, tetapi juga simbol keharmonisan sosial dan spiritual. Pengunjung yang ikut merasakan kegiatan ini biasanya merasa lebih dekat dengan budaya Bali, bahkan bisa memahami filosofi “Tri Hita Karana” yang menjadi dasar kehidupan di desa.
Selain itu, Desa Wisata Penglipuran juga terkenal dengan kerajinan tangan, khususnya anyaman bambu dan tenun tradisional. Beberapa pengunjung tertarik belajar membuatnya sendiri, sehingga pengalaman di desa terasa lebih interaktif dan mendalam. Aktivitas seperti ini menjadi nilai tambah yang membuat desa ini berbeda dari destinasi wisata lain.
Kuliner Tradisional yang Menggugah Selera
Tidak lengkap rasanya mengunjungi desa ini tanpa mencicipi kuliner lokal. Makanan khas Penglipuran sederhana namun kaya rasa. Salah satu favorit pengunjung adalah nasi campur Bali yang disajikan dengan berbagai lauk tradisional. Aroma rempah dan cara penyajian yang autentik membuat siapa pun merasa sedang menikmati hidangan ala keluarga Bali.
Selain nasi campur, ada juga jajanan tradisional seperti klepon, dadar gulung, dan jaja bali lainnya. Banyak pedagang lokal yang membuat makanan ini langsung di tempat, sehingga pengunjung bisa melihat proses pembuatannya. Menariknya, kuliner ini juga menjadi media belajar bagi wisatawan; mereka tidak hanya makan, tetapi juga belajar bahan, cara memasak, dan filosofi di balik setiap hidangan.
Pengalaman kuliner ini menambah lapisan lain dari perjalanan wisata, membuat pengunjung merasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat desa.
Wisata Edukasi dan Aktivitas Interaktif
Desa Wisata Penglipuran bukan sekadar tempat wisata pasif. Banyak program edukasi yang ditawarkan, terutama untuk keluarga dan pelajar. Misalnya, tur interaktif tentang sistem pertanian tradisional, pengelolaan sampah organik, hingga pembuatan kerajinan lokal.
Anak-anak sekolah dan keluarga sering datang untuk belajar langsung dari warga. Aktivitas ini bukan hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya menjaga alam dan budaya. Bagi wisatawan dewasa, pengalaman ini sering kali mengubah perspektif tentang perjalanan wisata: dari sekadar menikmati pemandangan menjadi pengalaman edukatif yang memperkaya.
Selain itu, desa ini juga menyediakan homestay yang dikelola oleh warga. Menginap di sini memberi kesempatan untuk merasakan kehidupan sehari-hari, mulai dari rutinitas pagi warga hingga upacara adat yang mungkin sedang berlangsung. Pengalaman menginap seperti ini jarang ditemukan di tempat wisata lain, sehingga memberi nilai unik bagi Desa Wisata Penglipuran.
Temukan Informasi Lengkapnya Tentang: Travel
Baca Juga Artikel Berikut: Danau Rawa Pening: Keindahan Alam, Legenda, dan Pesona Wisata yang Selalu Memikat