JAKARTA, incatravel.co.id – Ketika perjalanan membawa kita pada sebuah tempat yang bukan hanya indah, tetapi juga membuat kita merasa seperti sedang melangkah mundur dalam waktu, maka tempat itu punya sesuatu yang lebih dari sekadar destinasi wisata. Begitulah rasanya saat menapakkan kaki di Desa Wisata Sade, sebuah desa adat suku Sasak di Lombok yang tetap bertahan dengan cara hidupnya, seolah dunia modern belum sempat menyentuhnya sepenuhnya. Dalam sudut pandang seorang pembawa berita yang sedang menelusuri jejak budaya, saya merasakan bagaimana desa ini menjadi ruang hidup yang menghidupkan kembali cerita-cerita lama yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Desa Wisata Sade dan Daya Tarik Keasliannya

Desa Wisata Sade tidak hanya menjadi magnet bagi para wisatawan lokal maupun mancanegara, tetapi juga menjadi saksi hidup dari perjalanan panjang masyarakat Sasak. Di sini, setiap rumah, lorong, hingga aktivitas warganya seperti mengajak kita ikut memahami warisan budaya yang begitu dijaga. Rumah-rumah tradisional yang masih dibangun dari anyaman bambu, kayu, dan atap alang-alang bukan hanya menjadi objek foto, tetapi merupakan bagian dari kehidupan nyata yang sedang berlangsung.
Begitu masuk, saya mencium aroma tanah dan serbuk kayu yang cukup khas. Menariknya, beberapa warga bercerita bahwa lantai rumah tradisional mereka diolesi campuran tanah liat dan kotoran kerbau agar tetap mengeras dan tidak berdebu. Mungkin terdengar sedikit ekstrem, tetapi cara ini justru menjadi simbol keaslian mereka. Dengan metode tradisional itu, rumah tetap hangat dan bebas dari serangga, sesuatu yang bahkan teknologi modern kadang tidak bisa gantikan.
Suasana di desa ini pun sangat menenangkan. Tidak ada hiruk pikuk kota, tidak ada bising kendaraan, hanya suara anak-anak berlarian sambil memanggil teman mereka. Hal kecil seperti itu membuat saya merasa benar-benar kembali pada masa ketika hidup jauh lebih sederhana.
Keunikan Rumah Tradisional Suku Sasak
Ketika melewati beberapa gang kecil, saya menemukan deretan rumah tradisional yang disebut Bale Tani. Bentuknya cenderung rendah, dengan atap runcing dan dinding agak miring. Rumah ini dibuat tanpa paku, semua struktur terikat oleh tali rotan dan kayu. Satu hal yang menarik perhatian saya adalah pintu rumah yang lebih rendah dari ukuran normal, membuat pengunjung harus sedikit menunduk saat masuk. Dalam budaya Sasak, ini bukan sekadar gaya arsitektur, tetapi bentuk penghormatan bagi pemilik rumah.
Sambil berjalan, saya sempat mengobrol dengan seorang ibu yang sedang menenun di depan bale. Ia bercerita bahwa perempuan Sasak baru boleh menikah jika sudah bisa menenun kain sendiri. Keahlian ini diajarkan sejak kecil, diwariskan dari ibu ke anak perempuan, terus berulang tanpa pernah hilang. Kain tenun Sasak hasil buatan tangan mereka bukan hanya indah, tetapi juga punya cerita di setiap coraknya. Dari garis-garis tegas hingga motif yang terlihat rumit, semuanya menyimpan makna budaya.
Dalam momen itu, rasanya seperti sedang menonton film dokumenter langsung di lokasi aslinya. Ada kebanggaan dalam cara mereka mempertahankan tradisi, meskipun pariwisata modern terus berkembang.
Tradisi dan Ritual yang Masih Dilestarikan
Desa Wisata Sade bukan hanya soal bangunan adat, tetapi juga tentang tradisi yang terus dijaga. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah tradisi merariq, sebuah budaya perkawinan unik suku Sasak. Di sini, proses pernikahan tidak seperti upacara pada umumnya. Biasanya, laki-laki “menculik” perempuan yang ia cintai dengan cara yang sudah disepakati kedua pihak. Meski terdengar dramatis, bagi masyarakat Sasak, ini adalah simbol keberanian dan keseriusan seorang pria.
Seorang pemuda di desa sempat bercerita bahwa meskipun tradisi ini kini lebih fleksibel, esensi budaya tetap sama. Mereka menyesuaikan dengan zaman, tetapi tidak menghilangkan identitas budaya yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Ada semacam kebijaksanaan dalam cara masyarakat Sade menjaga ritual, tidak keras dengan aturan lama tetapi tetap tidak kehilangan jati diri.
Salah satu hal yang membuat saya kagum adalah bagaimana desa ini menjalankan setiap acara adat dengan penuh kehormatan. Ketika ada perayaan, seluruh masyarakat turun tangan. Ada musik tradisional dengan irama yang menghentak, tarian yang menggambarkan kisah-kisah leluhur, hingga upacara yang sarat filosofi. Semua kegiatan berlangsung dengan penuh kehangatan dan kebersamaan.
Tenun Sade dan Peran Masyarakat dalam Ekonomi Kreatif
Satu hal yang menonjol di Desa Wisata Sade adalah geliat ekonomi kreatifnya. Meski mempertahankan tradisi, masyarakat setempat sangat produktif dan kreatif dalam mengembangkan kerajinan. Tenun khas Sade menjadi produk unggulan yang paling banyak diburu wisatawan. Tidak heran jika banyak rumah yang menampilkan alat tenun tradisional di halaman depan mereka.
Saya menyaksikan sendiri bagaimana sebuah kain tenun dikerjakan selama berminggu-minggu. Polanya rumit, benangnya ditarik perlahan, lalu disusun menjadi motif yang punya filosofi tertentu. Harga kain tenun itu tidak murah, tetapi benar-benar sepadan dengan kerja keras yang tercurah. Beberapa turis yang saya temui mengaku rela membayar lebih karena ingin membawa pulang karya yang memiliki cerita budaya yang kuat.
Selain tenun, masyarakat juga menjual pernak-pernik tradisional seperti gelang kayu, kalung manik-manik, hingga anyaman bambu. Menariknya, setiap barang yang dijual dibuat secara mandiri oleh warga, sehingga wisata desa ini tidak hanya mempertahankan budaya, tetapi juga menggerakkan perekonomian lokal secara langsung.
Desa Wisata Sade sebagai Ruang Edukasi Budaya
Sebagai pembawa berita yang kerap meliput tentang pariwisata dan budaya, saya melihat Desa Wisata Sade tidak hanya menarik sebagai destinasi, tetapi juga sebagai ruang edukasi budaya. Banyak wisatawan datang bukan untuk sekadar melihat-lihat, tetapi untuk belajar langsung tentang kehidupan masyarakat Sasak. Di sini, kita bisa melihat bagaimana tradisi diwariskan sambil tetap berjalan berdampingan dengan dunia modern.
Beberapa sekolah dan universitas bahkan rutin datang melakukan studi lapangan. Mereka belajar tentang arsitektur tradisional, pola sosial masyarakat, hingga proses pembuatan kain tenun. Desa ini seperti museum hidup yang setiap sudutnya bisa diceritakan.
Saat melihat anak-anak kecil Sade berlarian sambil memegang alat permainan tradisional, saya merasa bahwa masa depan budaya ini masih sangat cerah. Mereka tidak hanya tumbuh dengan tradisi, tetapi juga dengan rasa bangga atas identitas mereka.
Ketertarikan Wisatawan dan Tantangan bagi Masa Depan Desa Sade
Dengan semakin banyaknya wisatawan yang datang, Desa Wisata Sade menghadapi tantangan untuk menyeimbangkan antara tradisi dan ekonomi. Beberapa warga mengaku sangat terbantu oleh peningkatan pendapatan dari pariwisata, tetapi mereka juga tetap menjaga agar desanya tidak kehilangan nilai budaya. Keseimbangan inilah yang membuat desa ini tetap hidup dan autentik hingga saat ini.
Ada kemungkinan bahwa perkembangan ekonomi bisa memengaruhi pola hidup masyarakat. Namun, dari apa yang saya lihat langsung, komunitas Sade memiliki keteguhan yang cukup kuat untuk mempertahankan budaya mereka. Mereka memandang wisatawan sebagai tamu yang datang untuk belajar, bukan sebagai ancaman untuk budaya mereka.
Temukan Informasi Lengkapnya Tentang: Travel
Baca Juga Artikel Berikut: Menyelami Pesona Desa Wisata Penglipuran: Tradisi, Alam, dan Kehidupan Bali yang Asli