Taman Nasional Gunung Mulu dan Pesona Gua Terbesar

JAKARTA, incatravel.co.id – Pulau Borneo menyimpan salah satu keajaiban alam paling menakjubkan di Asia Tenggara. Tersembunyi di pedalaman negeri Sarawak, Malaysia, terbentang kawasan seluas 52.864 hektar yang penuh misteri. Taman Nasional Gunung Mulu menjadi rumah bagi sistem gua terbesar dan paling banyak diteliti di kawasan tropis dunia. UNESCO menetapkan kawasan ini sebagai Situs Warisan Dunia pada tahun 2000. Moreover, tiga gunung mendominasi bentang alam taman ini yaitu Gunung Mulu setinggi 2.377 meter, Gunung Api 1.750 meter, dan Gunung Benarat 1.858 meter. Setidaknya 295 kilometer lorong gua sudah berhasil dipetakan oleh para peneliti sejak tahun 1978. Kawasan ini menawarkan petualangan yang sulit ditemukan di tempat lain. Hutan hujan primer yang lebat dan sungai jernih yang mengalir deras melengkapi keindahan bawah tanah kawasan ini. Ngarai dalam yang terjal menambah pesona bentang alam yang sudah terkenal di seluruh dunia.

Sejarah Panjang Taman Nasional Gunung Mulu sebagai Situs Warisan

Taman Nasional Gunung

Catatan pertama tentang kawasan ini berasal dari tahun 1858. Spenser St. John, seorang Konsul Inggris di Brunei, menulis tentang gumpalan batu kapur raksasa dan terowong alami dalam bukunya. Namun usahanya mendaki Gunung Mulu gagal karena tebing curam dan hutan lebat. Pada tahun 1920, seorang pemburu suku Berawan bernama Tama Nilong menemukan jalur barat daya menuju puncak. Tama Nilong kemudian memandu Edward Shackleton dari Universitas Oxford pada tahun 1932 untuk pendakian pertama yang berhasil.

Pemerintah Sarawak menetapkan kawasan ini sebagai taman nasional pada tahun 1974. Furthermore, Royal Geographical Society mengirim lebih dari 100 ilmuwan pada tahun 1978 untuk ekspedisi selama 15 bulan. Penelitian tersebut mengungkap keajaiban geologis yang sebelumnya tidak diketahui dunia. Pada bulan Desember 1980, tim Inggris menemukan Kamar Sarawak di dalam Gua Nasib Bagus. Penemuan ini mengguncang dunia speleologi karena ukurannya yang luar biasa besar. Akhirnya pada tahun 2000, UNESCO mengakui kawasan ini sebagai Situs Warisan Dunia berkat keanekaragaman hayati dan sistem karst tropiknya. Pada tahun 2005, tim ekspedisi Inggris menghubungkan Gua Whiterock dengan sistem Gua Clearwater. Penemuan ini memperpanjang total lorong yang sudah dipetakan secara signifikan. Kawasan ini juga menjadi Taman Warisan ASEAN sejak tahun 1984.

Empat Gua Pertunjukan di Taman Nasional Gunung Mulu

Kawasan ini memiliki empat gua utama yang terbuka untuk pengunjung umum. Setiap gua memiliki keunikan tersendiri yang tidak bisa ditemukan di tempat lain. Jalur menuju keempat gua ini sudah dilengkapi trotoar dan pencahayaan yang memadai sehingga mudah diakses.

Berikut keempat gua pertunjukan beserta keistimewaannya:

  • Gua Rusa (Deer Cave) merupakan lorong gua terbesar di dunia dengan lebar 169 meter dan tinggi 125 meter di titik terluasnya
  • Gua Lang memiliki dinding berhias stalaktit dan stalagmit yang sangat indah serta menjadi rumah bagi ular, kelelawar, dan serangga kecil
  • Gua Clearwater merupakan sistem gua terpanjang di Asia Tenggara dengan lebih dari 220 kilometer lorong yang sudah dipetakan
  • Gua Angin (Wind Cave) menawarkan formasi batu kapur yang halus dan mengkilap serta aliran udara alami yang sejuk

In addition, Kamar Sarawak di dalam Gua Nasib Bagus menjadi ruang bawah tanah terbesar di dunia. Ruangan ini membentang sepanjang 600 meter, selebar 415 meter, dan setinggi 80 meter. Ukurannya cukup untuk menampung sekitar 40 pesawat Boeing 747 secara bersamaan.

Pertunjukan Kelelawar di Taman Nasional Gunung Mulu

Setiap sore menjelang petang, jutaan kelelawar terbang keluar dari mulut Gua Rusa dalam formasi spiral yang memukau. Fenomena ini dikenal sebagai bat exodus dan menjadi salah satu tontonan alam paling menakjubkan di dunia. Kelelawar mulai keluar sekitar pukul 17.30 hingga 18.30 waktu setempat tergantung kondisi cuaca.

Platform pengamatan di depan mulut Gua Rusa menjadi tempat terbaik untuk menyaksikan pertunjukan ini. Pengunjung disarankan tiba sekitar pukul 17.00 untuk mendapatkan posisi yang nyaman. Pertunjukan berlangsung selama 20 hingga 40 menit saat jutaan kelelawar bergerak dalam kolom teratur menuju hutan untuk berburu serangga. Therefore, kelelawar tidak akan terbang saat hujan deras turun. Menyaksikan pertunjukan ini tidak dikenakan biaya tambahan di luar tiket masuk taman. Momen ini menjadi puncak kunjungan bagi banyak wisatawan yang datang dari berbagai penjuru dunia. Kelelawar bibir keriput menjadi penghuni utama Gua Rusa yang jumlahnya mencapai jutaan ekor. Mereka terbang dalam formasi menyerupai awan gelombang untuk menghindari burung pemangsa di langit terbuka.

Pendakian Pinnacles di Taman Nasional Gunung Mulu

Formasi batu kapur runcing setinggi hingga 50 meter menjulang di lereng Gunung Api. Pinnacles atau puncak batu runcing ini terbentuk selama jutaan tahun akibat erosi air hujan pada batu kapur. Pemandangan ratusan bilah batu yang mencuat dari kanopi hutan menjadi salah satu panorama paling ikonik di Borneo.

Pendakian menuju Pinnacles memerlukan tiga hari dua malam dengan rincian perjalanan:

  1. Hari pertama dimulai dengan perjalanan perahu di Sungai Melinau lalu mendaki 9 kilometer menuju Camp 5 di tengah hutan
  2. Hari kedua merupakan pendakian berat menuju titik pandang Pinnacles melalui medan terjal menggunakan tali dan tangga besi
  3. Hari ketiga digunakan untuk kembali ke Camp 5 lalu melanjutkan perjalanan perahu menuju kantor taman nasional

For example, Camp 5 menyediakan tempat berteduh dasar berupa platform kayu beratap tanpa dinding dan pintu. Pendaki perlu membawa perlengkapan tidur dan makanan sendiri. Jalur ini tergolong sangat berat dan hanya disarankan bagi mereka yang memiliki kebugaran baik. Pemandu taman akan menilai kondisi fisik pendaki sebelum mengizinkan keberangkatan. Jumlah peserta dibatasi setiap harinya sehingga pemesanan jauh hari sangat disarankan. Pendaki yang berhasil mencapai titik pandang akan dihadiahi panorama ratusan bilah batu kapur yang menjulang di tengah hijaunya kanopi hutan.

Canopy Skywalk dan Keanekaragaman Hayati Taman Nasional Gunung Mulu

Jembatan gantung sepanjang hampir 500 meter terbentang di ketinggian 25 meter di atas lantai hutan. Canopy Skywalk menjadi salah satu jembatan kanopi berbasis pohon terpanjang di dunia. Hanya dua orang yang diizinkan berada di jembatan secara bersamaan sehingga suasananya sangat tenang.

Keanekaragaman hayati di kawasan ini sungguh luar biasa dan mencakup:

  • Lebih dari 3.500 jenis tumbuhan termasuk 109 jenis palem dari 20 genus yang berbeda di seluruh kawasan taman
  • Sekitar 200 jenis burung termasuk rangkong yang menjadi burung kebanggaan negeri Sarawak
  • Mamalia langka seperti macan dahan, monyet daun merah, dan bekantan yang hidup di kanopi hutan hujan tropis
  • Makhluk gua yang berevolusi dalam kegelapan total seperti kepiting gua buta dan udang gua yang tidak ditemukan di tempat lain

Also, taman ini memiliki 17 zona tumbuhan yang berbeda mulai dari hutan dataran rendah hingga hutan lumut pegunungan. Tanaman kantong semar, anggrek langka, dan pohon dipterokarp raksasa tumbuh subur di berbagai ketinggian. Jalan malam berpemandu juga tersedia bagi wisatawan yang ingin menyaksikan makhluk nokturnal yang aktif setelah gelap. Serangga bercahaya, katak pohon, dan ular menjadi penghuni malam yang menarik untuk diamati.

Panduan Perjalanan ke Taman Nasional Gunung Mulu

Persiapan yang matang sangat diperlukan karena lokasi taman berada di pedalaman Borneo. Tidak ada jalan darat yang menghubungkan kawasan ini dengan kota besar terdekat. Akses utama menuju taman hanya melalui penerbangan dari beberapa kota di Sarawak.

Berikut panduan lengkap untuk merencanakan perjalanan:

  1. Terbang dari Miri ke Bandara Mulu dengan penerbangan selama 30 menit yang beroperasi tiga kali sehari
  2. Siapkan tiket masuk taman sebesar 30 ringgit Malaysia untuk lima hari bagi pengunjung asing
  3. Pesan penginapan jauh hari terutama pada musim puncak Juni hingga September agar tidak kehabisan tempat
  4. Kunjungi pada musim kering antara Maret hingga Oktober untuk kondisi cuaca terbaik dan akses yang lebih mudah
  5. Bawa uang tunai yang cukup karena tidak ada mesin penarik uang di kawasan taman nasional ini
  6. Sewa pemandu wajib untuk semua tur gua dan pendakian demi keamanan dan pelestarian lingkungan taman

Additionally, pilihan penginapan tersedia mulai dari asrama taman, rumah panjang, hingga Mulu Marriott Resort untuk wisatawan yang menginginkan kenyamanan lebih. Membawa pakaian cepat kering, jas hujan, dan obat nyamuk juga sangat disarankan karena hujan bisa turun kapan saja. Warga Indonesia tidak memerlukan visa untuk kunjungan ke Malaysia selama maksimal 30 hari. Pastikan paspor memiliki masa berlaku minimal enam bulan sebelum keberangkatan. Pusat informasi di kantor taman menyediakan peta dan jadwal tur yang bisa dipesan langsung di tempat.

Kesimpulan

Taman Nasional Gunung Mulu menawarkan petualangan alam yang sulit ditandingi oleh destinasi lain di Asia Tenggara. Gua raksasa, formasi batu runcing, dan hutan hujan purba menjadikan kawasan ini layak dikunjungi. Keanekaragaman hayati yang luar biasa juga menambah daya tarik bagi setiap pengunjung. Perjalanan menuju pedalaman Borneo ini memang memerlukan persiapan ekstra. Namun setiap usaha akan terbayar dengan pengalaman yang tidak terlupakan di salah satu keajaiban alam terbesar di dunia.3

Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Travel

Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti: Danum Valley: Hutan Hujan Purba Terakhir di Borneo

Author